Ditujukan kepada yang meremehkan atau meninggalkan shalat lima waktu…


بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang hukum kewajiban shalat lima waktu bagi seorang muslim, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mengkin belum sadar atau belum tahu tentang agung dan tingginya kedudukan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang keutamaan dan manfaat shalat, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang beratnya hukuman di dunia bagi orang yang meninggalkan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang beratnya siksaan di akhirat bagi orang yang meninggalkan shalat, sehingga dia meninggalkannya.

Demi Allah, tulisan ini bukanlah arena untuk mencela, menghina, menghujat, mencaci, melaknat orang-orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Tulisan ini saya tujukan kepada orang yang mengaku dirinya muslim, tetapi tidak pernah mengerjakan shalat, atau mengerjakan sebagian dan meninggalkan sebagian atau orang yang meyakini bahwa shalat itu tidak wajib.

1. Hukum shalat lima waktu wajib bagi seorang muslim baligh, berakal kecuali wanita yang haid dan nifas berdasarkan Al Quran, As Sunnah dan Ijma'.

Dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini:
Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا }
Artinya: "…Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". QS. An Nisa: 103
{ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ }
Artinya: "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". QS. Al Bayyinah: 5.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke negeri Yaman dan memerintahkannya untuk menyerukan kepada manusia bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah Rasulullah, dan jika mereka mentaatinya, maka beritahukanlah kepada mereka:
أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ...
Artinya: "Bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk mengerjakan shalat lima waktu sehari dan semalam…". HR. Bukhari dan Muslim.

عن عُبَادَة بن الصامت رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ ».
Artinya: "Shalat lima waku telah Allah Wajibkan atas seluruh hamba…". HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami'.

Dan Ibnu Qudamah (w:744H) menyatakan bahwa umat Islam bersepakat akan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam. Lihat kitab Al Mughni.

Sedangkan tidak wajib bagi wanita yang haid dan nifas karena:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم :«... أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » .
Artinya: "Abu Sa'id Al Khudry radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "…Bukankah wanita jika haid tidak shalat dan berpuasa". HR. Bukhari.

2. Diantara Kedudukan Shalat di dalam Agama Islam.

- Shalat lima waktu adalah Rukun Islam Kedua.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berasabda: "Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan". HR. Bukhari dan Muslim.

- Shalat adalah tiang agama, jika tiangnya roboh maka bangunan di atasnya akan roboh juga.

Mu'adz radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
« رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ »
Artinya: "Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, puncaknya yang tertinggi adalah jihad". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah: 1122.

- Shalat adalah yang paling pertama akan dihisab oleh Allah, jika shalatnya baik, maka seluruh amalannya baik dan akan beruntung,  adapun jika shalatnya buruk maka seluruh amalnya buruk dan merugi.

عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: ((أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة: الصلاة، فإن صلحت صلح سائرُ عمله، وإن فسدت فسد سائرُ عمله)).
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Yang paling pertama akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah perkara shalat, jika shalatnya baik maka seluruh amal perbuatannya baik dan jika rusak maka seluruh amal perbuatannya rusak". HR. Ath Thabrani dan dishahihkan oelh Al Albani di dalam Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1358.

- Menjaga shalat adalah wasiat terakhir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sekarat untuk umatnya.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حُضِرَ جَعَلَ يَقُولُ « الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ».
Artinya: "Ummu Salamah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika dalam keadaan sekarat bersabda: "Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian". HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 868.

- Shalat diwajibkan tanpa perantara Jibril 'alaihissalam tetapi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, yang langsung mendapatkan perintah kewajiban shalat ketika beliau melakukan Isra' dan Mi'raj.

- Semenjak anak-anak sudah diperintahkan shalat dan boleh dipukul jika tidak shalat pada waktu berumur 10 tahun.  

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ ».
Artinya: "Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu 'anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun dan pukul mereka ketika mereka berumur 10 tahun dan pisahakanlah di dalam tempat-tempat tidur mereka". HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Irwal Al Ghalil, no. 298.

- Siapa yang kelupaan shalat lima waktu maka harus diqadha.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ ».
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang kelupaan shalat amaka hendaklah dia dirikannya jika dia ingat, tidak ada penebus akannya kecuali hal itu". HR. Muslim

3. Keutamaan dan manfaat mendirikan shalat.

- Shalat mencegah dari perbuatan fahsya (setiap maksiat yang kotor, keji yang merupakan hawa nafsu manusia) dan mungkar (setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah). Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Artinya: "...dan dirikanlah salat.  Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…". QS. Al Ankabut: 45

- Menghapuskan dosa dan kesalahan, yang mana setiap manusia seorang yang sering melakukan kesalahan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم-يَقُولُ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ». قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ « فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ».
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apa pendapat kalian, jikala ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, dia mandi darinya setiap hari sebanyak lima kali, apakah masih tersisa dari kotorannya sedikitpun?", para shahabat menjawab: "Tidak tersisa sedikitpun dari kotorannya". Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berasabda: "Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu Allah menghapus dengannya kesalaan-kesalahan". HR. Muslim

- Shalat merupakan cahaya bagi pelakunya di dunia dan akhirat sehingga nyaman hidup di dunia serta dijauhkan dari api neraka ketika di akhirat dan tidak dikumpulkan bersama Karun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf .

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلاَةَ يَوْماً فَقَالَ « مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ ».
Artinya: "Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari menerangkan tentang shalat, beliau bersabda: "Barangsiapa yang selalu menjaganya (shalat), maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan pada hari kiamat akan bersama Karun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf". HR. Ahmad dan Al Mundziri berkata di dalam At Targhib Wa At Tarhib: "Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid", Al Haitsamy berkata: "Para perawi hadits ini orang-orang tsiqah", tetapi ada juga sebagian ulama hadits yang melemahkan hadits ini.

Ibnu Qayyim (w:762H) berkata ketika mengomentari hadits ini:
وفيه نكتة بديعة وهو أن تارك المحافظة على الصلاة إما أن يشغله ماله أو ملكه أو رياسته او تجارته فمن شغله عنها ماله فهو مع قارون ومن شغله عنها ملكه فهو مع فرعون ومن شغله عنها رياسة ووزارة فهو مع هامان ومن شغله عنها تجارته فهو مع أبي بن خلف
Artinya: "Di dalam hadits ini ada poin menarik, yaitu orang yang meninggalkan penjagaan akan shalat, bisa karena disibukkan oleh hartanya atau kerajaannya atau kepemimpinannya atau perniagaannya, maka siapa yang disibukkan oleh hartanya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Karun, dan siapa yang disibukkan oleh kerajaannya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Fir'aun, siapa yang disibukkan oleh kementeriannya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Haman dan siapa yang disibukkan oleh perniagaannya  sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Ubay bin Khalaf". Lihat kitab Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha.

Bersambung insyaAllah…

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Sabtu, 16 Rabiul Awwal 1432H
Di Dammam KSA

Kecintaan Kepada Nabi

Di setiap Maulid Nabi Muhammad SAW, syair-syair lagu spritual Bimbo: "Rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperi. Berabad jarak darimu ya Rasul, serasa Dikau di sini. Cinta Ikhlas Mu pada manusia, bagai cahaya suarga. Dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja", mewakili segenap perasaan kita umat Islam.
Kerinduan dan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW sering pula diekspresikan dengan perasaan cinta yang kadang emosional, tak rela melihat Nabi dan ajarannya mendapat hinaan, penodaan dan penistaan dengan memerangi orang dan kelompok yang menistakan nabi dan ajaran Islam melalui jihad secara fisik.

Islam lebih sering ditampilkan sebagai agama yang kejam, suka kepada kekerasan dan peperangan. Islam menjadi agama yang menakutkan, padahal sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menekankan Islam sebagai agama kedamaian membawa keselamatan dan rahmat bagi seluruh alam.

Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari asal kata "Salam" yang artinya "Damai Sejahtera". Kalimat Islam itu sendiri jika diterjemahkan berarti "Selamat (Damai)". Adapun kalimat "Salam" dalam bahasa Ibrani yaitu 'Shalowm' yang artinya "damai Sejahtera". Para ulama ahli tafsir yang merujuk pada Al-Qur'an, selamat dari kemungkaran (kejahatan) dan selamat dari api neraka (murka Allah).

Sebagai agama yang membawa kedamaian, kesejahteraan dan rahmat bagi seluruh alam, Islam yang disebarkan nabi menjadi tonggak sejarah terpenting bagi kehidupan manusia dalam membangun peradaban yang modern dan madani (civil society). Begitu juga dengan penyebaran Islam di nusantara. Para wali dan ulama menyebarkan Islam ke seluruh nusantara dengan jalan damai, "suro diro joyodiningrat, lebur dening pangastuti" (semua angkara murka atau tindak kejahatan akan kalah dengan keluhuran budi), dan dalam terminologi Islam disebut "Idza jaal haqqu wajahaqal bathil, innal bathila kana zahaqu."

Cinta Kepada Nabi
Cinta memang memiliki ekspresi yang berbeda-beda bagi setiap manusia, begitu juga cinta kepada Nabi Muhammad SAW, manusia biasa yang dimuliakan Allah, pemimpin teladan umat yang diutus menjadi Rasul Allah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi terakhir (khataman nabiyyin), tiada nabi setelahnya, kekasih Allah yang digelari sebagai manusia yang dipercaya Al-Amin.
Dengan segenap kerinduaan dan kecintaan yang begitu mendalam kepada nabi, kita ingin memberi catatan-catatan penting bagaimana kita mengekspresikan rasa cinta kepada Nabi itu dengan pandangan dan perspektif yang lebih mendalam dalam kehidupan kita dengan meneladani keperibadian Nabi Muhammad SAW.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bagaimana kecintaan para sahabat kepada Nabi. Menjelang akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW yang tengah menderita sakit, setelah memimpin sholat Subuh, Nabi berdiri di atas mimbar dan bertanya kepada para sahabat. "Wahai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang. Siapakah di antara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik."
Melihat semua sahabat diam, Nabi mengulangi lagi ucapannya dengan suara yang terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapannya yang ketiga kalinya, seorang laki-laki berdiri menuju nabi, dialah Ukasyah Ibnu Muhsin. "Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, wahai kekasih Allah, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku," ucap Ukasyah.
Mendengar ini, nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putrinya, Fatimah. Bilal tampak begitu berat menunaikan perintah nabi, Ia tak ingin cambuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih, namun Ia juga tidak ingin mengecewakan nabi. Segera setelah sampai, cambuk diberikan kepada nabi dan dengan cepat cambuk berpindah ke tangan Ukasyah. Masjid seketika dipenuhi oleh gemuruh suara para sahabat.

Tiba-tiba dari barisan terdepan melesat maju sosok berwajah sendu dan berjanggut basah oleh air mata, dialah Abu Bakar dan sosok pemberani yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Umar Ibnu Khattab. Mereka berkata, "Hai Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau inginkan, kisaslah kami". Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian, begitu perintah nabi.

Melihat Abu Bakar dan Umar duduk kembali, Ali bin Abi Thalib pun berdiri di depan Ukasyah dengan berani. "Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul. Inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku, Allah SWT sesungguhnya tahu kedudukan dan niatmu wahai Ali, duduklah kembali," kata nabi.

"Hai Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga." Hasan dan Husin tampil di depan Ukasyah. Lalu Nabi menegur mereka, "Wahai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku, duduklah."
Masjid kembali ditelan senyap, Ukasyah tetap tegap menghadap nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi Ukasyah mengambil kisas. "Wahai Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah ragaku," Nabi selangkah mendekatinya.
"Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu." Kemudian Nabi pun melepaskan ghamisnya dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis sedih.

Melihat tubuh nabi, Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya nabi, sepuas keinginannya ia ciummi punggung nabi. Perasaan kerinduan kepada nabi ia tumpahkan pada saat itu. Ukasyah menangis gembira, berteriak haru, gemetar bibirnya berucap, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka."
Dengan penuh senyum nabi berkata, "Ketahuilah wahai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini." Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah dan para sahabat yang lain berebut mencium Ukasyah. Pekikan takbir kembali menggema. "Wahai Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul Allah di surga," kata para sahabat.

Meneladani Nabi

Bagi kita umat Nabi Muhammad SAW, kecintaan kepada nabi tentu dengan menjadikan nabi sebagai teladan dalam kehidupan kita. Keteladanan nabi Muhammad SAW bukan lantaran kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan politik kenegaraan yang begitu besar yang dimiliki Nabi. Ia menjadi teladan bagi umat manusia lantaran keluhuran budi dan akhlak yang dimiliki, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suriteladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).
Meneladani Nabi berarti meneladani bagaimana nabi membangun rumah tangga yang memperoleh ridho Allah SWT. Nabi bersama istrinya Siti Khadijah selalu berusaha agar dapat mewujudkan dan membina rasa saling cinta mencintai, sayang menyayangi, hormat menghormati, selalu menjaga nama baik dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Nabi memelihara, mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggungjawab dan kasih sayang sehingga anak-anaknya senantiasa beriman dan bertakwa, sehingga hidupnya berguna dan berbahagia.

Nabi Muhammad SAW selalu menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada orang-orang yang dipimpinnya, selalu berusaha agar persaudaraan sesama umat Islam (ukhwah Islamiyah) terwujud, sering bermusyawarah dengan para sahabat, berusaha mengikis pengaruh kebendaan dari dalam diri kaum muslimin. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang konsekuen, teguh pendirian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Nabi Muhammad SAW juga selalu berusaha memelihara dan meningkatkan kesehatan, kebersihan dan keindahan tubuhnya secara Islami. Selalu membiasakan diri dengan akhlak terpuji dan menjauhkan diri dari akhlak tercela, serta giat beramal shaleh yang bermanfaat bagi umat. Sehingga Allah memuji Nabi: "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4).
Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi terhadap anak-anak yatim, para fakir miskin dan orang-orang yang terlantar. Kasih sayang nabi bukan saja kepada sesama manusia, bahkan terhadap binatang dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Meneladani Nabi Muhammad SAW berarti meneladani keperibadian-Nya sebagai pemimpin yang dipercaya (amanah) bukan saja dari umat melainkan dari Allah. Kepemimpinan yang dipercaya (amanah) itu dicapai karena nabi senantiasa mengembangkan kepribadian yang mengedepankan sikap moral yang baik dan kejujuran (siddiq), meningkatkan keterampilan dan menyampaikan apa adanya (tabligh) dan mengembangkan kapasitas serta kecerdasan (fathanah).
Mencintai dan meneladani Nabi bukan karena kita ingin menjadi nabi. Sebagai manusia yang tak sempurna, tidak selalu benar, serba terbatas, tak pernah luput dari segala kesalahan dan berbuat aniaya kepada sesama manusia, kita mencintai dan meneladani Nabi karena ingin mendapat jaminan dan safaat dari Nabi di hari kemudian. Wallahu a'lam bishawab.

*) Wahyu Triono KS adalah Direktur CINTA Indonesia, Professional Campaign and Politic Consultant Pada DInov ProGRESS Indonesia dan Wakil Sekretaris Jenderal PKMN KAHMI.

Manfaat Air Kelapa

Sejak lama, kelapa dikenal sebagai tumbuhan yang kaya manfaat. Nyaris tak ada bagian dari tanaman kelapa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan.

Namun tak jarang pula orang yang tidak paham memanfaatkan setiap bagian dari kelapa. Air kelapa misalnya, justru hanya menjadi limbah karena bingung memanfaatkanya. Padahal air kelapa justru sangat berkhasiat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.

Nah.. agar air kelapa tak terbuang percuma, Anda perlu tahu apa saja khasiat dan kegunaannya. Inilah alasan kenapa Anda perlu minum air kelapa :

  1. Air kelapa ternyata lebih bernutrisi ketimbang susu penuh (whole milk) karena tidak mengandung kolesterol dan rendah lemak.
  2. Air kelapa dapat memperbaiki sirkulasi darah dan dikenal mampu membersihkan saluran pencernaan.
  3. Air kelapa tidak hanya akan membuat sistem kekebalan tubuh Anda lebih baik, tetapi juga membantu tubuh melawan beberapa jenis virus penyebab penyakit.
  4. Jika Anda mengidap penyakit batu ginjal, biasakanlah meminum air kelapa secara rutin. Kebiasaan meminum air kelapa akan mambantu memecah batu ginjal dan memudahkan mereka keluar dari tubuh.
  5. Air kelapa juga dikenal sejak dahulu dapat menyembuhkan gangguan saluran kencing. Segelas air kelapa akan meredakan rasa sakit akibat susah kencing.
  6. Jika Anda masih merasa pusing karena mabuk, tak ada yang bisa memulihkannya dengan cepat selain mengonsumsi air kelapa.
  7. Air kelapa yang rasanya lembut sangat kaya akan elektrolit dan potassium . Potassium dapat membantu tubuh mengatur tekanan darah dan fungsi organ jantung.
  8. Air kelapa dapat mempercepat naiknya trombosite bagi penderita DBD dan menurunkan demam (trombosit turun karena dipakai untuk mencegah pendarahan,karena demam tinggi mengakibatkan pengentalan darah,dan pori”pembuluh darah membesar)

Berbagai manfaat air kelapa :
a. Air kelapa berkhasiat sebagai diuretik, yaitu untuk memperlancar pengeluaran air seni. Air kelapa muda dicampur dengan sedikit sari jeruk sitrun bermanfaat untuk mengatasi dehidrasi, juga untuk memerangi gangguan cacing dalam perut anak-anak kecil.

b. Jika air kelapa muda yang dicampur dengan susu amat baik untuk makanan anak. Campuran air kelapa muda tersebut mempunyai khasiat untuk mencegah penggumpalan susu dalam perut, muntah, sembelit, dan sakit pencernaan.

c. Air kelapa juga mempunyai bermacam-macam khasiat sebagai obat. Di antaranya, minum air kelapa muda juga dapat membantu mengatasi pengaruh racun obat sulfa dan antibiotika lain, sehingga menjadikan obat-obat itu lebih cepat diserap darah.

d. Mencuci muka dengan air kelapa secara kontinu tiap hari dapat menyembuhkan atau melenyapkan jerawat, noda-noda hitam, kerutan pada wajah yang datang lebih dini, kulit mengering, dan wajah menjadi tampak berseri.

e. Campurlah air kelapa dengan sedikit madu. Ramuan ini merupakan tonikum yang murah tetapi berkhasiat. Ramuan ini merangsang pusat-pusat seksual tubuh dan meniadakan akibat buruk gairah seksual berlebih.

f. Jerawat membandel dapat diobati dengan campuran 25 gram pasta kunyit dengan segelas air kelapa, lalu dibiarkan selama semalam suntuk, kemudian tambahkan 3 sendok teh bubuk cendana merah. Aduk-aduklah semua bahan tersebut sampai rata, kemudian disimpan lagi tanpa terganggu selama 3 hari. Saringlah ramuan tadi dengan tiga lapis kain kasa. Simpan sari tadi dalam botol, dan oleskan pada muka dua kali sehari hingga jerawat lenyap.

g. Air kelapa juga berkhasiat sebagai obat luka, telapak kaki pecah-pecah, dan eksim. Membuat ramuannya relatif mudah. Rendamlah segenggam beras dalam air kelapa muda bersama tempurungnya sampai beras terasa asam karena peragian, kemudian beras digiling menjadi bubuk halus. Tepung beras tersebut digunakan dengan dioleskan setiap hari selama 3-4 hari pada bagian tubuh yang sakit.

h. Jika air kelapa muda dicampur dengan sejumput bubuk kunyit dan air kapur sirih dalam ukuran sama merupakan obat luka bakar dan meniadakan rasa panas pada telapak kaki dan tangan


Mudahan bermanfaat bagi kita semua. Anak saya Fauzi pernah panas badannya dan dokter tidak tahu apa penyakitnya. Darah dites berulang ulang dan tetap saja tidak tahu apa penyakitnya. Saya tanya ibu saya waktu itu untuk minum air kelapa. Setiap hari saya beli kelapa di dekat OTK atau pasar tani danau kota. Alhamdulillah sekarang jarang sakit panas.

Saling mencintai dan Persaudaraan sesama muslim




          Hubungan di antara cinta dan persaudaraan adalah hubungan yang sangat kuat. Maka setiap orang yang dipertalikan oleh Allah I di antara engkau dan dia dengan hubungan persaudaraan, niscaya ia mendapat hak untuk saling mencintai karena Allah I. Dan setiap orang yang bergaul denganmu dengan kecintaan iman, niscaya ia berhak mendapatkan hak persaudaraan Islam.
          Dalam larangan tentang sebagian gambaran perbuatan jahat terhadap muslim  atau perintah sebagian gambaran kehidupan bersama, tolong menolong, dan saling berkasih sayang, Rasulullah r melengkapi pengarahan beliau dengan sabdanya:
وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
"Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah I yang bersaudara."[1]
Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan pengertian persaudaraan yang dimaksudkan dalam hadits tersebut dengan ucapannya: 'Berusahalah agar kamu menjadi seperti saudara senasab dalam kasih sayang, tolong menolong, saling membantu, dan memberi nasehat.'[2]
          Dan standar pemahaman ukhuwah (persaudaraan) dan yang tidak sempurna iman  kecuali dengannya adalah yang dijelaskan oleh Rasulullah r dengan sabdanya:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ, لاَيُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak beriman (yang sempurna) sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia mencintai untuk dirinya sendiri dari kebaikan."[3]
Al-Karmani memberikan komentar dengan katanya, 'Dan termasuk iman pula, bahwa ia membenci untuk saudaranya keburukan yang dibencinya untuk dirinya, dan beliau tidak menyebutkannya, karena mencintai sesuatu memberikan konsekuensi membenci lawannya, lalu beliau r tidak menyebutkan hal itu karena sudah cukup.'[4]
          An-Nawawi rahimahullah mendefinisikan mahabbah bahwa ia adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai orang yang mencintai.[5] Dan Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: 'Maksud kecenderungan di sini adalah ikhtiyari (yang diusahakan), bukan alami, dan mahabbah adalah keinginan apa yang diyakininya sebagai kebaikan.'[6] Dan keinginan atas mahabbah dan persaudaraan, mendorong seseorang seperti Abu Hurairah t untuk mendapat doa dari Rasulullah r untuk dirinya dan ibunya dengan mahabbah yang beredar bersama orang-orang yang beriman, maka Rasulullah r mendoakan untuknya:
اَللّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هذَا وَأُمَّهُ إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ, وَحَبِّبْ إِلَيْهِمْ الْمُؤْمِنِيْنَ...
"Ya Allah, cintakanlah hamba-Mu ini dan ibunya kepada hamba-hamba-Mu yang beriman, dan cintakanlah kepada mereka orang-orang yang beriman…"[7]
          Dan dasar dalam cinta dan benci bahwa ia adalah untuk sesuatu yang dicintai Allah I atau dibenci-Nya. Allah I mencintai (menyukai) orang-orang yang bertaubat dan bersuci, orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa, orang-orang yang sabar dan bertawakkal, orang-orang yang berbuat adil, dan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya secara berbaris … dan tidak menyukai orang-orang zalim, melewati batas, israf (berlebih-lebihan), berbuat kerusakan, berkhianat, dan orang-orang yang sombong…
          Sebagaimana dasar dalam cinta bahwa ia berlaku umum untuk semua orang-orang yang beriman, bervariasi mengikuti keshalihan mereka. Maka kita tidak bisa menegakkan permusuhan bagi orang yang terjatuh dalam perbuatan maksiat yang dia telah bertaubat darinya, atau telah dilaksanakan hukuman had padanya, dan sekalipun ia berbuat maksiat, ia tetap dalam lingkungan Islam. Rasulullah r melarang mencela sahabat yang dilaksanakan hukuman cambuk beberapa kali karena meminum arak, beliau bersabda:
لاَ تَلْعَنُوْهُ فَوَاللهِ, مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
"Janganlah kamu mengutuknya, demi Allah, aku tidak mengetahui, sesungguhnya ia mencintai Allah I dan Rasul-Nya."[8]
Ibnu Hajar rahimahullah mengambil kesimpulan dari hadits tersebut: bahwa tidak ada kontradiksi di antara melakukan yang dilarang dan tetapnya rasa cinta kepada Allah I dan rasul-Nya di dalam hati pelaku… dan sesungguhnya orang yang berulang kali melakukan maksiat, rasa cinta kepada Allah I dan Rasul-Nya tidak dicabut darinya.[9]
          Dalam hadits yang lain, sebagian sahabat berdoa atas orang yang mabok agar Allah I menghinakannya, maka Nabi r bersabda dengan rasa cinta dan persaudaraan:
لاَ تَكُوْنُوْا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيْكُمْ
"Janganlah kamu menjadi pembantu syetan atas saudaramu."[10]
Agar memalingkan pandangan mereka untuk memohonkan ampunan baginya dan memberikan nasehat kepadanya, sebagai pengganti mendoakan celaka atasnya yang membuat syetan menjadi senang dan bertambah kuat.
          Dalam sebuat atsar disebutkan: sesungguhnya Abu ad-Darda` melewati seorang laki-laki yang telah melakukan dosa, maka mereka mencelanya, maka ia berkata, 'Bagaimana pendapatnya jika kamu menemukannya di dalam lobang, apakah kamu mengeluarkannya? Mereka menjawab, 'Tentu.' Ia berkata, 'Maka janganlah kamu mencela saudaramu, dan pujilah Allah I yang telah menyelamatmu (dari perbuatan dosa itu).' Mereka bertanya, 'Apakah engkau tidak membencinya?' Ia menjawab, 'Sesungguhnya aku membenci perbuatannya. Maka apabila ia telah meninggalkannya, maka ia adalah saudaraku."[11]
          Sudah berapa banyak ikat persaudaraan yang terputus. Berapa banyak hati yang ditikam permusuhan dan kebencian karena ijtihad yang salah. Padahal persoalannya luas untuk menjaga kasih sayang dan persaudaraan bersama orang yang terjerumus dalam perbuatan maksiat. Maka bagaimana dengan saudara-saudara yang terpeleset dalam pendapat atau tergelincir dalam ijtihad?... karena sumber persaudaraan dan cinta masih tetap ada, yaitu memuliakan aqidah iman yang dibawanya dan kalimah tauhid yang mengajak kepadanya.
          Sesungguhnya Allah I menjadikan cinta dan benci karena Allah I sebagai ikatan Islam yang paling kuat. Dan dalam satu riwayat:
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: اَلْمُوَالاَةُ فِى اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِى اللهِ, وَالْحُبُّ فِى اللهِ وَاْلبُغْضُ فِى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
"Ikatan iman yang paling kuat adalah: loyalitas karena Allah I dan saling memusuhi karena Allah I, cinta karena Allah I dan benci karena Allah I."[12]
          Sesungguhnya iman tidak sempurna kecuali dengan kebenaran perasaan ini dan mengikhlaskan ikatan ini:
مَنْ أَحَبَّ فِى اللهِ وَأَبْغَضَ فِى اللهِ وَأَعْطَى ِللهِ وَمَنَعَ ِللهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ اْلإِبْمَانَ
"Barangsiapa yang mencintai karena Allah I, membenci karena Allah I, memberi karena Allah I, dan tidak memberi karena Allah I, berarti ia telah menyempurnakan iman."[13]
          Dan barangsiapa yang ingin merasakan kenikmatan mujahadah terhadap syetan dan manisnya bersih dari hawa nafsu serta keagungan sikap loyalitas kepada Allah I, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, maka inilah jalannya:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا, وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ, وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ –بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ- كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُنْقَذَ فِى النَّارِ
"Ada tiga perkara, barangsiapa yang ada padanya, niscaya ia mendapatkan manisnya iman: bahwa Allah I dan rasul-Nya lebih dicintai kepadanya dari pada selain keduanya, bahwa ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah I, dan bahwa ia benci kembali dalam kekafiran –setelah Allah I menyelamatkannya darinya- sebagaimana ia benci dijermuskan di neraka."[14]
Dan Rasulullah r menjadikan kelebihan di antara dua orang yang bersaudara yang saling mencintai, dengan sejauh kecintaan setiap orang dari keduanya terhadap saudaranya:
مَا تَحَابَّ اثْنَانِ فِى اللهِ تَعَالَى إِلاَّ كَانَ أَفْضَلُهُمَا أَشَدّهُمَا حُبًّا لِصَاحِبِهِ.
"Tidak saling mencintai di antara dua orang karena Allah I, melainkan yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling mencintai terhadap saudaranya."[15]
Dan jika pada suatu hari syetan menyusup di antara keduanya, maka hendaklah keduanya melakukan introfeksi terhadap hatinya masing-masing, berdasarkan sabda Nabi r:
مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِى اللهِ فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلاّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا
"Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah I, lalu dipisahkan di antara keduanya, melainkan karena dosa yang dilakukan salah seorang dari keduanya."[16]
          Dan untuk mendorong cinta kepada Allah I, Dia I memberi kabar gembira dengan memuliakan mereka saat huru hara di hari kiamat dan hisab, dengan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan arsy, dan termasuk tujuh golongan yang diberikan keistimewaan dengan keutamaan ini, seperti yang tersebut dalam hadits:
... وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ, فَاجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ...
"… dan dua orang yang saling mencintai karena Allah I, maka keduanya berkumpul atas hal itu dan berpisah karenanya…'[17]
          Dan supaya masyarakat muslim saling tolong menolong di atas kebaikan dan menanam nilai-nilai kebajikan, banyak sekali hadist-hadits yang mendorong agar memberitahukan saudara yang mempunyai kedudukan khusus dalam dirinya, dan cinta yang berbeda di atas persaudaraan secara umum bagi semua orang-orang yang beriman –bahwa engkau mencintainya, di antara hal itu adalah sabda Rasulullah r:
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِهِ فِى مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ ِللهِ.
"Apabila salah seorang darimu mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mendatanginya di rumahnya, lalu mengabarkan kepadanya bahwa sesungguhnya ia mencintainya karena Allah I."[18]
          Dan di antara kebenaran persaudaraan dan murninya rasa cinta, bahwa engkau menghitung seperti perhitungan saudaramu dalam menarik manfaat untuk dirimu atau menolak bahaya darimu. Dan dalam wasiat Rasulullah r kepada Abu Hurairah t:
وَأَحِبَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُؤْمِنِيْنَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ وَأَكْرِهْ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ, تَكُنْ مُؤْمِنًا ...
"Dan cintailah untuk kaum muslimin dan mukminin apa saja yang engkau cintai untuk dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka apa-apa yang engkau benci untuk dirimu dan keluargamu, niscaya engkau menjadi beriman…"[19]
          Dan di ancara cara mengungkapkan kebenaran rasa persaudaraan dan hakekat kasih sayang, sesuatu yang engkau berikan untuk saudaramu berupa doa-doa yang baik, di tempat ia tidak mendengar dan tidak melihatmu. Di tempat yang tidak ada campuran perasaan riya dan berpura-pura, seperti dalam sabda Nabi r:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ,  عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ قَالَ اْلمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ وَلَكَ مِثْل.
"Doa seorang muslim untuk saudaranya dari belakang dikabulkan. Di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang ditugaskan dengannya berkata: Amin, dan untukmu semisalnya."[20]
An-Nawawi rahimahullah berkata: Sebagian salafus shalih, apabila ingin berdoa untuk dirinya, ia berdoa untuk saudaranya yang muslim dengan doa tersebut, karena doa itu dikabulkan dan ia memperoleh hal serupa untuk dirinya sendiri.
          Dan untuk persaudaraan, ada hak-haknya di dunia, berupa mendokan yang bersin (apabila membaca hamdalah), mengunjungi yang sakit, memenuhi undangan, memberikan penghormatan, dan mengiringi jenazah.
          Sebagaimana syari'at mengharamkan saling tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari, dan tidak diangkat amal keduanya sampai keduanya berdamai, dan Allah I tidak menjadikan ikatan persaudaraan bagi orang-orang beriman selain persaudaraan Islam. Dan Nabi r telah memberikan isyarat bahwa jikalau ia menjadikan untuk dirinya seorang kekasih, niscaya ia adalah Abu Bakar t, akan tetapi beliau r lebih mengutamakan persaudaraan Islam. Maka beliau bersabda:
وَلكِنْ أُخُوَّةُ اْلإِسْلاَمِ أَفْضَلُ
"Akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama."[21]
Apakah kita lebih mengutamakan fanatisme jahiliyah di atas persaudaraan Islam?
          Ikatan persaudaraan ini tetap berlangsung hingga ke negeri akhirat, di mana sebagian penghuni surga tidak melihat saudara mereka yang bersama mereka semasa di dunia. Maka mereka bertanya kepada Rabb I tentang saudara-saudara mereka. Nabi r menggambarkan keadaan tersebut dengan sabdanya:
فَمَا مُجَادَلَةُ أَحَدِكُمْ لِصَاحِبِهِ فِى الْحَقِّ يَكُوْنُ لَهُ فِى الدُّنْيَا أَشَدَّ مُجَادَلَةً مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ لِرَبِّهِمْ فِى إِخْوَانِهِمِ الَّذِيْنَ أُدْخِلُوْا النَّارَ. قاَلَ: يَقُوْلُوْنَ: رَبَّنَا! إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّوْنَ مَعَنَا وَيَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيَحُجُّوْنَ مَعَنَا فَأَدْخَلْتَهُمُ النَّارَ. فَقَالَ: اذْهَبُوْا فَأَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتَهُمْ مِنْهُمْ...
"Tidak ada perdebatan seseorang kamu bagi sahabatnya dalam kebenaran yang ada di dunia yang lebih kuat dari pada perdebatan orang-orang beriman kepada Rabb mereka tentang saudara-saudara mereka yang dimasukkan ke dalam neraka. Dia I bersabda, 'Mereka berkata, 'Rabb kami, saudara-saudara mereka shalat bersama kami, puasa bersama kami, berhaji bersama kami, lalu Engkau masukkan mereka ke dalam neraka.' Maka Dia I berfirman, 'Pergilah, lalu keluarkanlah orang yang kamu kenal dari mereka…"[22]
          Lalu mereka mengeluarkan mereka (orang beriman yang berada di dalam neraka). Kemudian Dia I memberi ijin bagi mereka, maka mereka mengeluarkan orang yang di hatinya ada iman seberat biji sawi. Sesungguhnya persaudaraan yang memiliki kedudukan seperti ini di sisi Allah I, dan sesungguhnya kecintaan yang mempunyai keutamaan seperti itu di dunia dan akhirat sudah seharusnya ditekuni, disempurnakan hak-haknya, dan meminta tambahan darinya:
يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
:"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang". (QS. Al-Hasyr:10)

Kesimpulan:
-   Ikatan persaudaraan harus berdasarkan iman dan mengharuskan hak-hak bagi seorang muslim.
-   Persaudaraan iman sudah seharusnya berada di atas persaudaraan nasab.
-   Kriteria (standar) persaudaraan adalah bahwa engkau menyukai kebaikan untuk saudaramu, sebagaimana engkau menyukai untuk dirimu sendiri.
-   Dasar dalam cinta adalah:
1.     Memandang pada sesuatu yang dicintai Allah I.
2.     Berlaku umum bagi semua orang-orang beriman.
3.     Mencintai orang yang beriman dan membenci maksiatnya.
-   Cinta karena Allah I adalah ikatan iman paling kuat.
-   Orang yang paling utama di antara dua orang yang saling mengasihi adalah yang paling cinta di antara keduanya.
-   Di antara lorong-lorong syetan untuk memisahkan di antara dua orang yang saling mengasihi:
1.     Dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.
2.     masuknya perasaan cemburu.
-   Di antara keutamaan cinta karena Allah I: berhak mendapat cinta-Nya dan aman di bawah naungan arsy-Nya I.



[1]  HR. al-Bukhari, Abu Daud, at-Tirmidzi, Malik.
[2]  Dikutip dari hasyiyah al-Muwaththa`, ta'liq Muhammad Fu`ad Abdul Baqi hal. 908, kitab Husnul Khuluq no. 15.
[3] Shahih al-Jami' no.7085 (Shahih).
[4]  Fath al-Bari 1/58. saat mensyarahkan hadits ke 13 dari kitab al-Iman bab ke-tujuh.
[5] Fath al-Bari 1/58.
[6]  Fath al-Bari 1/58
[7]  Shahih Muslim, kitab keutamaan para sahabat, bab 35, hadits no. 158.
[8]  Shahih al-Bukhari, kitab al-Hudud, bab ke-lima, hadits no. 6780.
[9]  Fath al-Bari 12/78, Syarh hadits 6780
[10]  Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hudud, bab ke-Lima, no. 6781
[11]  Tetang kehidupan sahabat 3/413
[12] Shahih al-Jami' 2539 (Shahih).
[13]  Shahih al-Jami' no 5965.
[14]  HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa`I (Jami' al-Ushul 1/237 no.20.)
[15]  Shahih al-Jami' no. 5594 (Shahih).
[16] Shahih al-Jami' no. 5603 (Shahih).
[17]  HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, dan Malik (Jami' al-Ushul 9/564. no. 7317.
[18] Shahih al-Jami' no. 281 (Shahih).
[19]  Shahih al-Jami'  no. 7833 (Hasan)
[20]  Shahih Muslim, kitab Zikr, bab 23, hadits no. 88.
[21]   Dari beberapa riwayat al-Bukhari (Jami' al-Ushul 8/589 no. 6408)
[22]  Shahih Sunan Ibnu Majah karya Syaikh al-Albani, al-Muqaddimah, bab ke-9, hadits no. 51 (Shahih).